Zona-Zona Itu

Jadi ini yang mereka sebut dengan “growth zone”, suatu zona di luar zona nyaman. Saya selalu mengira saya tahu banyak hal, seperti salah satunya mengenai “growth zone” ini. Dengan seksama saya susun tiap detailnya sesuai keinginan saya. Saya pilih setiap komponen penyusun “growth zone” ini dengan apa yang saya pikir baik untuk saya, yang lebih penting, yang membuat “growth zone” ini menjadi lebih mirip dengan “comfort zone”.

Namun ternyata memang benar, tidak pernah ada comfort di dalam growth zone, dan sebaliknya. Saya yang berniat menjadikan fase ini sebagai zona tumbuh yang nyaman harus ternganga menerima kenyataan. Intinya, saya merasa Allah sedang menunjukkan pada saya bahwa yang kini saya butuhkan bukan zona nyaman yang setengah mati saya ciptakan itu.

Dan ini tidak mudah. Tidak pernah mudah menerima bahwa ternyata tidak pernah ada zona yang benar-benar nyaman. Tapi Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang sia-sia. Melalui situasi tidak mudah ini sekali lagi saya kembali dapat membuktikan bahwa Ungkapan “Allah gak kemana-mana” itu benar adanya. Allah menunjukkan betapa banyak yang saya miliki. Betapa banyak teman yang tidak meninggalkan saya di saat saya sendiri. Saya juga jadi belajar satu hal penting. Kita harus mensyukuri dan menghargai kehadiran setiap orang dalam hidup kita dengan porsi yang sama. Buat saya sekarang, semua teman sama berharganya. Tidak peduli itu teman dekat, teman yang tidak terlalu dekat, maupun teman yang baru kenal sekalipun. Karena tidak sekali terjadi, di saat saya susah dan sendiri, orang yang datang menghampiri saya untuk menanyakan apakah saya baik-baik saja adalah orang yang tidak pernah saya sangka-sangka, dan bukan mereka yang selama ini saya golongkan sebagai “teman baik”.

Jadi untuk apa lagi saya repot-repot membuat penggolongan eksklusif “sahabat” atau “best friends”? Karena ternyata jauh lebih mudah ketika saya menghargai setiap teman yang saya miliki dengan porsi yang sama :)

Intinya, hargai siapapun yang bersedia masuk ke dalam kehidupan kita, menemukan diri kita dalam versi yang sebenar-benarnya, dan tetap memilih untuk tinggal.

I miss Jogja. I miss RSCM. I miss night shift as med student. I miss campus. I miss Jakarta’s highway. I miss my family. I miss home. I miss my friends. I miss laughing. I miss smiling, sincerely. I miss being myself. I even miss Jakarta’s traffic. I miss home’s wifi. I miss mom’s cook. I miss malls. I miss NUH. I miss nasi lemak. I miss Orchard. I miss Jalan Sabang. I miss Kopitiam Oey. I miss Grand Indonesia. I miss Percy Jackson. I miss watching movie at the cinema. I miss singing outloud with my friends. I miss doing weird things with my siblings. I miss talking to myao and pyao. I miss home, oh i said it twice. I miss walking through RSCM’s corridor. I miss Kencana’s Olala Cafe’s beef luncheon. I miss my teachers. I miss my juniors. I miss my seniors. I miss ayam goreng mbok sabar. I miss gudeg. I miss dimsum gudang listrik. Oh even I miss mas-mas kopkar and masnur. And among those statements I feel lucky I don’t need to mention I miss you.

No matter how uneasy and unhappy my life here, I won’t be complaining. I’ll deal with them and turn them into extremely the opposite with all gratitude I have. Because as long as my family happy, I am happy. That’s enough, I won’t ask for much. And in time I’ll be able to have them by my side just like it used to be. 11 months to go. I can make it.
We can’t jump off bridges anymore because our iPhones will get ruined. We can’t take skinny dips in the ocean, because there’s no service on the beach and adventures aren’t real unless they’re on Instagram. Technology has doomed the spontaneity of adventure and we’re helping destroy it every time we Google, check-in, and hashtag.
Jeremy Glass, We Can’t Get Lost Anymore (via her0inchic)

Nah.

If you do not follow somebody you feel very lonely. Be lonely then. Why are you frightened of being alone? Because you are faced with yourself as you are and you find that you are empty, dull, stupid, ugly, guilty and anxious - a petty, shoddy, second-hand entity. Face the fact; look at it, do not run away from it. The moment you run away fear begins.
Jiddu Krishnamurti (via benlaksana)

Cerpen : Karena Apa

Kira-kira apa yang membuatmu cinta? Aku penasaran ingin tahu. Aku tidak baik, menurutku sih.

Aku bulat, kata orang banyak begitu. Legam. Tidak lebih menarik dengan orang lain di luar sana. Aku tidak suka memakai pakaian terkini. Aku ya seperti ini. Aku berantakan. Kira-kira apa yang membuatmu…

Tulisannya bagus sekaliiiii :)

To Tumblr, Love Pixel Union